Ambisius Arsitektur by Aldy #MagangerSae07


Wong SAe. Sempat tak terlintas di pikiran bahwa saya akan memelajari arsitektur di studio ini. Tangan hangat dan mata dingin principle pada saat itu, tegas untuk menunjukan sebuah kualitas gaya dalam berarsitekturnya. Mas Ario principlenya. Tidak banyak kata yang sempat untuk terucap, tetapi banyak wejangan yang tersampaikan dalam komunikasinya. Jati dirinya akan berarsitektur menggebu-gebu, semangatnya untuk berkarya, dan melampiaskannya kepada arsitek-arsitek muda. Menumbuhkan semangat untuk tidak berpikir stagnan.

Awalnya, karena masih belum percaya ‘apakah akan berarsitektur?’ Maksudnya, apakah akan menjadi seorang arsitek? Alasan ini yang sejak awal bergeming setelah 4,5 tahun lulus dari dunia perkuliahan. ‘Apakah saya akan sesuai?’ Melalang buana dalam mencari pekerjaan untuk dapat mendapat jawabannya. Dan bermuara pada tim Wong SAE.



Dibawah bimbingan mas Ario dan tim, seakan-akan mendikte saya bahwa berkarir di dunia arsitektural tidak hanya mengenai bangunan. Mengawali desain dengan memelajari disiplin ilmu lain dan mengolahnya secara kontekstual, membuat saya berpikir bahwa arsitektur merupakan ilmu yang luas. Dibalut dengan candaan khas wong SAE, membuat saya merasa nyaman dengan karir sebagai seorang arsitek meskipun hanya dalam waktu yang lumayan sebentar (6 bulan). Tidak lupa beberapa diskusi dengan senior arsitek disana, yang mengubah cara pandang saya terhadap desain, mas Tomy salah satunya. Pengalaman beliau yang telah lama bersama dengan mas Ario, secara tidak langsung membantu saya untuk menemukan jawaban seperti apa arsitektur itu? Teringat dalam interviewnya oleh salah satu youtuber arsitek di Indonesia, Mas Tomy mengatakan bahwa berarsitektur itu adalah candu. Terutama ketika desain itu terbangun sesuai dengan yang telah seorang arsitek desain.


Apa yang telah tersampaikan secara tersirat maupun tidak tersirat oleh tim, membuat saya mendapatkan jawaban kenapa lebih memilih untuk berkarya dan berkarir sebagai seorang arsitek. Dari pemikirannya Mas Tomy, mungkin memang benar bahwa terbangun itu merupakan salah satu candu dalam arsitektur untuk seorang arsitek dapat terus berkarya. Apa yang beliau sampaikan, membuat saya merefleksikan kembali seperti apa arsitektur itu sendiri. Apa yang membuat candu terhadap arsitektur bagi saya bukan merupakan terbangunnya sebuah bangunan. Akan tetapi, mengolah desain dengan riset-riset dari disiplin lain yang menjadi daya tarik dan candu untuk saya. Terjalinnya komunikasi, bertukar pikiran antar pegawai dan atasan hingga anak magang seperti saya, membuat saya candu untuk selalu mengeksplorasi ide, pada saat menjadi bagian dari wong SAE maupun di luar wong SAE.


Masih banyak hal yang belum sempat tersemat dan tersampaikan. Akan tetapi, ucapan terimakasih yang besar terungkapkan kepada tim SAE. Mas Alvin, mba Indi, mas Cahyo (terutama), mas Reinhard, mas Riyan, mas Santos, mba Sari, mas Tomy, mba Dane, mas Adryan, mas Bamby, mba Yani (sambelnya enak banget!), mas Robbi, dan mba Totti terimakasih telah membuka pintu untuk saya menemukan jawaban saya dalam berarsitektur. Dan yang paling tidak terbendung, semoga selalu tenang dan nyaman dalam desanya, mas Ario. Terimakasih atas wawancaranya saat itu, pesan, impian dan wejangan mas akan saya tebarkan ke arsitek-arsitek muda. Jika impian mas berhenti di saya, saya yakin akan ada arsitek muda yang melanjutkan mimpi mas. Untuk Andre, Tiar, dan teman sepermagangan terimakasih atas pertemuannya, jalan kita masih panjang. Selamat sukses untuk semuanya.



Salam hangat, Aldy

8 views0 comments