Belajar jadi Desainer Grafis: Pragmatis dan Paradigmatis oleh Faiz #MagangerSae

Hello, perkenalkan nama saya Faiz, maganger graphic designer/creative team Studio Sae. Pertama saya ingin berterima kasih kepada Wong Sae yang sudah berkenan menerima saya dan mengajarkan banyak hal dalam kurun waktu sekitar 3 bulan.


Cerita magang ini bermula ketika saya lagi diskusi dalam sebuah proyek sayembara dan juga lagi pusing-pusingnya nyari program magang (karena jenuh nganggur dirumah setelah lulus skripsi) lalu teman sekelompok saya nunjukin poster open recruitment internship GD (Graphic Designer) di IG Studio Sae. Tidak berfikir panjang saya lalu langsung mengirimkan portfolio.


Walaupun saya suka dengan dunia arsitektur, keputusan saya sebagai lulusan sarjana arsitektur untuk ‘banting setir’ memulai untuk menjadi desainer grafis awalnya didasari 2 hal. Pertama saya merasa tidak puas dengan portofolio arsitektur saya, khususnya melihat karya desain di awal masa perkuliahan yang saya anggap secara teknis nya ngawur, ingin untuk memperbaiki tapi perasaan malas lebih kuat. Kedua melihat aktivitas yang sudah saya lakukan ternyata banyak juga yang berkaitan dengan kreativitas diluar mendesain bangunan, mulai dari desain grafis, ilustrasi, sampai fotografi.


Virgil Abloh, seorang artistic director dan collaborator kelas dunia bergelar master of architecture, yang bekerja untuk merk besar seperti Louis Vuitton, Nike, Ikea, dan Mercedes Benz, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan: “I don’t think I ever really thought I would practice architecture. I was there to learn how to design. I liked the idea of analyzing a program, thinking of a solution, and being able to defend it. But I think I always had a sense of how to internalize that method and apply it somewhere else.” di kesempatan lain ia juga berpendapat: “Young architects can change the world by not building buildings.” Selain Virgil banyak juga lulusan sekolah arsitektur yang sukses terjun ke dunia karir kreatif lainya, seperti Massimo Vignelli (desainer grafis) dan Tom Ford (desainer busana), dan di Indonesia seperti Tulus (penyanyi) dan Nicholas Saputra (aktor).


Dari apa yang saya pahami, ilmu yang didapatkan dari sekolah arsitektur itu tidak hanya tentang mendesain bangunan tetapi juga tentang paradigma desain. Paradigma desain merupakan disiplin dalam memandang dan memahami konteks permasalahan sehingga dapat menjawab masalah dengan tepat dan bahkan memberi dampak yang lebih luas lagi. Paradigma desain itu sendiri beragam dan juga berubah-ubah mengikuti zaman. Tetapi pada dasarnya proses problem solving dari paradigma desain tersebut merupakan suatu yang universal yang dapat diadaptasikan dan juga aplikasikan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Sehingga sejatinya diluar berpraktik untuk mendesain bangunan ilmu dari sekolah arsitektur tetap dapat bermanfaat.


Seperti yang dipesankan oleh Mba Totty, Principal Studio Sae, di awal saya memulai magang untuk belajar, belajar dan belajar. Ternyata memang banyak hal yang bisa dipelajari selama magang di Studio Sae. Tidak hanya terpaku pada satu pekerjaan saja, sebagai magang graphic designer/creative team saya dan rekan saya Lukas ditantang untuk mengerjakan berbagai pekerjaan mulai dari poster media sosial, layout buku, website, copywriting, menyiapkan dan membuat laporan acara webinar, content planning, sampai brand design.


Dalam proses pekerjaan tersebut kami juga di ajari lebih lanjut lagi. Setiap kali asistensi dengan Design Director nya Studio Sae, Mas Tomy, desain yang kami buat walaupun dirasa sudah cantik tetapi memiliki basis yang lemah akan selalu ditolak. Walaupun desain grafis sekilas seperti tinggal copy-paste aja dari pinterest, tapi sebenarnya desain yang baik dan bagus harus didasari paradigma yang benar juga. Kami diingatkan kembali tentang paradigma desain yang pernah diajarkan di sekolah arsitektur dan didorong untuk belajar mendesain secara bertahap. Di dalam ‘tugas besar’ periode magang kami, yaitu mendesain brand untuk platform karya sayembara Studio Sae, kami belajar untuk mengaplikasikan Design Thinking dalam pengerjaanya.



Selain menyertakan paradigma dalam proses mendesain, kami juga didorong untuk menyandingkan pragmatisme dalam berpraktik. Dimana desain sebaiknya dapat menyesuaikan dengan perkembangan yang ada dan cenderung low effort untuk dikerjakan juga mudah dipahami dan digunakan oleh umum. The right person for the job will balance vision with pragmatism.


Hardskill juga diajarkan selama kami magang. Dalam hal ini Mba Elsya, Creative Designer Studio Sae dan juga koordinator magang GD, mengajarkan (bahkan mau menyempatkan diri di hari libur) skill mulai dari basic Typography, Layouting, sampai penggunaan Miro dan Figma.


Di sela bekerja dan belajar selama masa magang selalu ada aja keseruan. Dimana di studio selalu ada candaan atau celetukan yang bikin ketawa. Ditambah lagi ada musik yang disetel dari komputer Mas Alvin dan snack sore dan yang ngebuat suasana jadi tambah menyenangkan. Selama masa saya magang juga ada kegiatan seru bareng Wong Sae seperti perayaan ulang tahun Studio Sae, outing ke Sentul, dan ekskursi ke proyek Taman Tebet.



Saya ingin ucapkan terimakasih ke semua Wong Sae yang sudah menerima saya di studio dengan hangat. Mba Totty, Mas Bamby, Mas Tomy, Mba Sari, Mas Adam, Mas Supar, Mas Alvin, Mba Indi, Mba Elsya, Mas Cahyo, Mas Santos, Mas Reinhard dan Mas Robby. Semoga Wong Sae semakin ceria dan sehat-sehat selalu.


Juga terimakasih ke sesama rekan magang: Lukas, Ridho dan Rifda. Semoga sehat-sehat juga, dan bisa mendapat karier yang baik setelah selesai masa magangnya.


Sekian sedikit sharing saya tentang pengalaman dan apa yang saya dapat selama menjadi MagangerSae. Harus terus ada gebrakan kreativitas dan inovasi di Studio Sae untuk menjawab tantangan sekarang dan masa depan. Semoga Studio Sae bisa semakin besar sehingga bisa memberi kebaikan yang lebih banyak lagi. Bangga, senang, dan juga bersyukur dapat berkenalan dan bekerja bersama Wong Sae.


Salam,

Faiz Rizky Nauli Harahap

Universitas Islam Indonesia

44 views0 comments