Order-chaos Proses menuju Bifurkasi Berarsitektur #MagangerSae09

Halo! Salam kenal, saya Muhammad Naufal Zahdi yang kerap dipanggil Naufal atau Denov, saya seorang mahasiswa arsitektur yang masih aktif. Di masa terakhir jenjang pendidikan saya ini, saya memiliki banyak pertanyaan dan hal yang ingin diulik terkait arsitektur dari perspektif di praktisi. Oleh karena itu, saya bertekad untuk mencari jawaban atas pertanyaan dan merasakan proses dari jawaban-jawaban pertanyaan saya tersebut melalui program internship.

Pagi hari di akhir bulan Desember, saya mencoba keberuntungan saya di akhir tahun dengan mengirimkan surel portofolio saya ke salah satu biro arsitektur “kroakisme”. Tanpa ekspektasi yang tinggi dan bermodal pasrah saya mengirimkannya. Pada Januari 2021, saya dihubungi dan diberikan kesempatan untuk magang di biro arsitektur tersebut, Studio Sae. Saya merasa sangat beruntung dan saya ambil kesempatan itu. Segera saat mengetahui hal tersebut saya mempersiapkan diri untuk menjadi perantau di Bintaro.

Bintaro, 1 Februari 2021 lah yang mengawali jawaban dari pertanyaan saya, melakukan magang secara luring di salah satu karya eminennya, Rumah Gerbong. Di Rumah Gerbong ini saya disambut hangat dengan Wong Sae.


Pada masa orientasi di awal saya terkena Covid sehingga mengahruskan diri saya untuk melakukan magang secara hybrid, perasaan bad luck terasa karena saya harus izin 3 minggu dan tidak bisa berarsitektur secara maksimal, andai waktu bisa diulang _//\\_.



Perjalanan magang luring dimulai, saya mendapatkan wawasan dan pengalaman baru, khususnya di bidang arsitektur. Saya mendapatkan banyak kesempatan di tiap proyek Studio Sae dari skala mikro hingga makro dan merasakan beberapa proses di dalamnya seperti meeting bersama klien, membuat proposal, merancang secara arsitektur (eksterior dan interior) dari skala bangunan hingga kawasan (lansekap), coloring denah, dan rendering beserta post-production.

Insight baru pun saya dapatkan pada saat melakukan perancangan, seperti pola pikir yang kontekstual, eksplorasi bentuk dan ide, konsep dekonstruksi dalam perancangan, dan pengembangan desain sesuai dengan identitas biro ini.

Skill lain yang juga menjadi penunjang serta bekal dan harus di asah di kemudian hari bagi saya, adalah how to present hasil karya yang di-purpose, socializing dan kolaborasi, fast work-phase, time management hingga character development. Bekal inilah yang menyadarkan saya bahwa arsitektur tidak selalu dibelakang layar.

Pelajaran yang paling banyak dipetik dan menjawab pertanyaan saya terasa pada saat mengikuti Sayembara. Ada dua sayembara yang saya ikuti pada periode magang ini, yakni Sayembara Hotel dan Resor Kuningan bersama teman magang saya, Rifdah dan Gichya. Jujur ini adalah pengalaman pertama saya dalam bersayembara dengan skala kawasan. Disitu saya merasa keluar dari zona nyaman saya karena berbekal pengetahuan yang tidak seberapa, saya dan teman-teman merancang 5 tipe bangunan di lahan berkontur. Bersyukur, kami dibimbing oleh Mas Bamby, Mas Tommy, dan Mas Cahyo sehingga dapat menyelesaikan sayembara tersebut. Di Sayembara ini, saya mendapatkan pelajaran bahwa saat melakukan proses desain, diskusi antara anggota tim dan mentor sangat penting (karena saya merasa sangat Limbad di masa awal magang ini).



Saya juga cukup beruntung karena dapat masuk ke tim sayembara Kawasan Yudikatif IKN bersama Mas Bamby, Mas Tommy, dan Mas Reinhard. Tantangan baru saya rasakan karena sayembara ini merupakan sayembara terbangun dengan skala kawasan. Kawasan Yudikatif memiliki topografi kontur yang lebih challenging ketimbang sayembara kemarin. Merod (rasa takutXtertekan tapi in a good way) ada, tapi disini saya merasa lebih berkembang karena dapat berdiskusi, menuangkan ide, dan mengeksekusi ide pada beberapa bagian di dalamnya. Sayembara tersebut selesai dan hasilnya berbuah manis. Walaupun saya sempat off di tengah perjalanan karena jompo<//3. Sayembara Yudikatif IKN ini merupakan pengalaman baru dan sangat berkesan bagi saya~




Selain berarsitektur secara praktisi saya juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan Magangrers Quiz edisi Bauhaus dan melakukan Ekskursi Hyundai BSD. Magangers Quiz edisi Bauhaus ini membuka kacamata desain, baik arsitektur, grafis, dan lainnya. Sementara, Ekskursi Hyundai BSD menjadi pengalaman baru yang menyenangkan karena dapat melihat proses desain dan hasil terbangunnya secara 1:1 serta mendapat penjelasan langsung dari perancang arsiteknya.


-----


Enam bulan ini saya sangat menikmati proses magang ini, semua pertanyaan yang ada di otak pun terjawab, baik yang terbilang maupun yang tidak. Studio Sae menjawab bagaimana cara berarsitektur dalam kacamata yang lebih luas. Diskusi, eksplorasi, kolaborasi, dan komunikasi merupakan kunci dari keharmonisan dalam berarsitektur.

Order-chaos di setiap proses magang ini membawa saya ke bifurkasi, sebuah puncak percabangan dari proses pembelajaran ini. Puncak percabangan dalam refleksi diri terkait kemana dan bagaimana saya akan terbang berarsitektur di kemudian hari setelah mendapatkan banyak bekal dari Studio Sae.

Terima kasih banyak untuk Mba Totty, Mas Bamby, Mas Tommy, Mba Sari, Mas Alvin, Mba Indi, Mas Cahyo, Mas Reinhard, Mba Elsya, Mas Supar, Mas Adam, Mas Santos, dan Mas Robby yang sudah menyambut dengan hangat, membimbing dengan sabar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan . Mohon maaf, kalo saya suka jadi Limbad atau Dory di kantor ya mas mba + suka mengeluarkan bahasa-bahasa aneh sesekali~_//\\_


Untuk Ridho, Rifdah, Gichya, Rhapa dan Lintang, semangat dan sukses selalu. Selamat bermain dan berjelajah di kehidupannya masing-masing, terima kasih sudah menjadi teman yang baik dan seru dalam waktu yang singkat ini. Semoga bisa bersua kembali dilain waktu.


Sekali lagi, terima kasih banyak Wong Sae dan pihak-pihak lainnya yang telah membuka pintu dan pikiran sekaligus jawaban dari pertanyaan dan keingintahuan terkait dunia arsitektur. Semoga kita dapat berjumpa lagi di lain kesempatan.


Salam dan Pamit,

Muhammad Naufal Zahdi,

Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

#MagangerSAE09


95 views0 comments