SKlas Serie 7: "Revitalisasi Kota Tua: Simpul Pelestarian Budaya dan Modernisasi Jakarta"



Jakarta, 30 September 2021Selama hampir 5 abad perjalanannya, Kota Tua tak hentinya mengalami perubahan, dari pusat pemerintahan hingga menjadi pusat wisata yang kita kenal sekarang. Transformasi Kota Tua berlanjut melalui revitalisasi untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai Simpul Pelestarian Budaya dan Modernisasi kota Jakarta. Revitalisasi kawasan dilakukan dengan pemugaran bangunan tua, pengembangan fasilitas transportasi antar moda dan juga pembangunan fasilitas umum. Proyek ini tidak hanya memiliki tujuan untuk menjadikan Kota Tua sebagai destinasi wisata kelas dunia tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga sekitar.


Perencanaan revitalisasi wilayah Kota Tua selalu menjadi PR yang menantang bagi stakeholder proyek tersebut. Karena selain memulihkan bangunan tua, hal lain juga harus dipikirkan seperti bagaimana menjadikan Kota Tua sebagai kawasan relevan untuk kegiatan ekonomi dan juga dihuni oleh masyarakat di masa depan. Untuk menjawab hal tersebut joint venture (JV) 3 perusahaan mengarahkan proyek revitalisasi Kota Tua untuk mempertahankan kawasan tersebut sebagai tempat pelestarian budaya dan sejarah kota Jakarta tetapi juga memodernisasi melalui proyek Transit Oriented Development (TOD).



Principal dari Bhirawa Architects, Boy Bhirawa mengawali sesi dialog dengan bercerita mengenai sejarah panjang perkembangan Kota Tua. Kawasan tersebut terbentuk diawali dari penaklukan wilayah kota Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) oleh VOC Belanda tahun 1619 dan terus dikembangkan untuk menjadi ‘kota ideal’. Kota yang lalu dikenal sebagai Batavia ini pun dijuluki sebagai ‘Ratu dari Timur’, pusat dari kegiatan sosial-budaya, pemerintahan dan pusat perdagangan. Jalan Tijgergrach, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Lada hari ini menurut beliau merupakan ruang kota yang memberi identitas dan karakter Kota Tua sejak dahulu.


Selanjutnya dibangun juga sentra-sentra baru selain Tijgergrach yaitu sentra Fatahilah dan Kali Besar. Efek modernisasi itu sendiri yang dimulai tahun 1918 oleh Belanda untuk kebutuhan transportasi, merusak sentra-sentra dalam tata rancang kawasan Kota Tua dengan jalur kereta api dan tram memotong ruang-ruang tersebut. Menurut beliau penting untuk memahami sejarah sehingga upaya revitalisasi tetap menjaga dan mengembalikan Spirit of Place atau identitas kawasan yang telah hilang.

Afan Adriansyah lalu melanjutkan dialog, ia mengungkapkan bahwa selain mengembalikan identitas harapan dari upaya revitalisasi adalah menjadikan Kota Tua milik semua dan juga harus bisa memberikan peluang sehingga mewadahi old venue dengan kaidah-kaidah yang benar, memberikan peluang pada bagian blok yang tidak memiliki signifikansi sejarah dan mencoba mendorong untuk bisa mengabsorbsi ekonomi yang terjadi di sekitar kawasan, supaya bisa hidup 24 jam, menciptakan balance, serta ada mutualisme dalam pergerakan ekonomi sehingga kawasan tersebut bisa vital kembali.

Fenesia sebagai perwakilan Novita Dewi di acara SKlas, mengungkapkan harapannya bahwa struktur kelembagaan yang merupakan hasil kolaborasi antar pemerintah pusat, daerah, masyarakat serta komunitas mencakup arsitek, budayawan, sejarawan bisa mengelola suatu kawasan dengan sukses, sehingga dibutuhkan support dan dukungan dari seluruh kalangan karena kota tua bukan masalah 1 entitas Kota Tua saja, namun memang milik seluruh elemen masyarakat, sehingga seluruh elemen masyarakat bisa mewarnai kota tua dan membawa kota tua lebih baik lagi di masa depan.


Yogie Dwimaz membuka pemaparan materinya dengan sebuah pertanyaan, “seperti apa kita mau mengarahkan revitalisasi Kota Tua? Living monuments atau dead monuments seperti Colosseum di Roma?” Yogie mengungkapkan banyak tantangan yang diupayakan oleh urban desainer untuk menghidupkan kawasan tersebut. Dimulai dari tantangan pemetaan potensi dan value yang ada di kawasan tersebut hari ini. Upaya tersebut dilanjutkan dengan perencanaan insentif kepada pemilik cagar budaya di Kotu saat ini agar mereka dapat menjaga kualitas bangunan tersebut. Dalam upaya menghidupkan wilayah tersebut pengembangan moda transportasi yang terintegrasi perlu diikuti dengan jalur pejalan kaki yang juga mudah dan terhubung sehingga bukan kendaraan yang ‘menghidupkan’ kawasan tetapi masyarakat yang bisa lebih leluasa bergerak.


Sesi diskusi SKlas Serie #07 dilakukan secara online dengan memanfaatkan aplikasi Zoom Meeting karena keadaan masih pandemi sehingga protokol kesehatan harus tetap dilakukan. Partisipan yang hadir berjumlah 236 orang, dimana angka tersebut kurang dari jumlah pendaftar yang masuk yaitu 389 orang. Walau begitu, para partisipan baik pembicara dan pendengar tetap antusias dalam diskusi kali ini. Para pendengar juga banyak memberikan respon dan pertanyaan kepada para pembicara baik soal desain maupun aspek-aspek lain sehingga diskusi menjadi lebih kaya. Acara diakhiri dengan pengumuman pemenang hadiah di SKlas Serie #07 kali ini dan juga foto bersama.


Yuk nonton recap diskusinya!



4 views0 comments